Mampet Tanda (Mau) Bahagia

By Lyra Puspa On March 17th, 2009

sungai-mampet-imagesariefanwarmultiplycom1
foto : ariefanwar.multiply.com

Hidup bagaikan aliran sungai. Kadang lancar, kadang mampet.

Ketika lancar, itulah saat-saat kita diberi segala kemudahan. Uang mudah didapat, jodoh mudah dicari, pelanggan mudah diraih, anak mudah diperoleh, teman mudah ditemui…

Ketika mampet, persis seperti aliran sungai yang terhambat buangan sampah manusia. Maju enggak, mundur juga nggak bisa. Semua susah, semua sulit. Rejeki seret, jodoh nggak datang-datang, omzet nggak naik-naik, anak bertahun-tahun nggak dapat, teman kok menjauh semua…

macet-02-okezonecom1
foto : okezone.com

Hidup bagaikan jalan raya. Kadang lancar, kadang macet.

Teringat saya suatu ketika hendak bertemu seorang teman lama di kawasan Depok. Rencananya kami akan membahas suatu project bersama yang sedang kami kerjakan. Setelah mengisi suatu seminar di daerah Pasar Minggu, harapan saya… ah, paling lama 1 jam sampai di Depok nih.

Tak dinyana hujan mengguyur begitu derasnya. Mulai memasuki Tanjung Barat, jalan macet luar biasa.

“Wah, terancam sampai Depok berjam-jam lagi nih,” pikir saya.

Semua kendaraan berhenti layaknya parkir. Macet tidak bergerak. Bergerak sih, tapi paling seinci demi seinci. Kalah cepat dengan kura-kura.

Teman saya handphone-nya tidak bisa dihubungi pula. Great ! Lengkaplah sudah kebingungan saya.

Read the rest of this entry »

Mau Kaya Kok Ngempeng…

By Lyra Puspa On March 7th, 2009

hisap-jempolPernah ngempeng ?

Sebagian kita mungkin pernah ngempeng di masa kecil, termasuk saya. Bentuknya macam-macam. Ada yang tidak bisa tidur kalau tidak memeluk barang “busuk” kesayangannya, entah guling, boneka, selimut, ujung bantal, atau apa saja. Saya bilang “busuk” karena bentuk dan baunya biasanya sudah tidak karuan.

Ada yang senang menghisap jempolnya (katanya ada yang sampai bentuk jempolnya berubah jadi gepeng lho ! waduh…). Ada juga yang memang “dilatih” ngempeng oleh ibu atau pengasuhnya karena diberikan “empeng” alias semacam dot tanpa botol untuk dihisap-hisap setiap saat rewel. Itu semua tipe ngempeng yang swadaya, tidak terlalu bergantung pada orang lain.

Tapi ada tipe ngempeng yang mengeksploitasi orang lain, entah ibunya, pengasuhnya, atau orang terdekatnya. Contohnya keponakan saya, yang baru bisa tidur kalau sudah menenggelamkan mukanya di - maaf - ketiak ibunya. Atau seperti anak-anak saya. Setiap saya bekerja di depan komputer, yang sulung stand by di samping saya sambil mengelus-elus dan menarik-narik siku saya, dan yang bungsu nemplok di punggung saya sambil menarik-narik rambut saya dan menghisap jempolnya. Bayangkan, betapa luar biasa usaha saya untuk bisa tetap konsentrasi bekerja.

Biasanya, dan seharusnya, kebiasaan ngempeng ini hilang sejalan dengan semakin bertambahnya usia kita. Kalau tidak, mungkin kita akan melihat setiap hari di sekeliling kita ada orang-orang dewasa yang berpakaian rapi dan berdasi tapi berjalan sambil menghisap jempolnya, atau preman berbadan besar yang penuh tato tapi kalau tidur harus memeluk boneka kesayangannya.

Sayangnya, ternyata pada sebagian kalangan pebisnis pemula kebiasaan ngempeng ini berlanjut hingga dewasa. Hanya saja, bentuknya  bertransformasi. Lho, maksudnya ?

Begini. Ceritanya, seorang kenalan saya membuka outlet empek-empek di garasi rumah orang tuanya. Kebetulan lokasi rumah orang tuanya lumayan strategis, sehingga akhirnya empek-empek dagangan kenalan saya itu cukup laris, bahkan mulai membuka cabang di beberapa tempat. Lucunya, ternyata hingga saat ini kenalan saya itu tidak pernah sekalipun membayar sewa garasi kepada orang tuanya, paling-paling hanya iuran listrik yang tidak seberapa. Alasannya, “Wah, omzet saya kan masih kecil. Mau bayar pakai apa ?”

Lho. Padahal, jika dia buka outlet di tempat lain dia kan tetap harus menyewa, ada atau tidak ada omzet. Padahal, jika dia tidak membayar biaya sewa, itu kan sama artinya dengan membohongi diri sendiri, karena keuntungan yang diperoleh di akhir bulan itu semu. Lha wong sewanya gratis dan listriknya disubsidi kok. Seandainya biaya sewa dan listrik itu dibayarkan atau minimal dianggarkan, belum tentu bisnisnya untung. Kalau diibaratkan anak-anak, bisnis milik kenalan saya itu survive karena ngempeng pada orang tuanya.

Sounds familiar ? Nggak heran.

Lha, ya memang masih lumayan banyak kok pebisnis yang masih suka ngempeng. Untuk pebisnis pemula di tahun-tahun pertama, mungkin masih masuk akal karena itu kondisi “darurat perang”. Tapi kalau bisnis sudah berjalan bertahun-tahun, bahkan sudah membesar dan berurat akar, ngempeng menjadi tidak masuk akal. Sayangnya, ternyata masih banyak terjadi.

Tidak membayar sewa dan biaya listrik, mentang-mentang bisnis di rumah sendiri atau rumah orang tuanya. Tidak membayar gaji karyawan dengan layak, mentang-mentang yang menjadi karyawan adalah keluarganya atau memanfaatkan pembantu rumah tangganya. Tidak peduli pada pelayanan pelanggan, karena sudah memegang hak monopoli akibat KKN dengan yang sedang berkuasa.

Kelihatannya enak, bayangkan betapa banyak cash flow yang bisa dihemat dengan tetap ngempeng. Lalu seakan-akan laba kita besar. Tapi hati-hati, biasanya bisnis yang masih suka ngempeng sulit untuk dapat bertahan dalam jangka panjang. Jika biaya sewa dan listrik lokasi milik orang tua dibayar, jika gaji karyawan ditetapkan sesuai standar, jika hak monopoli dicabut karena rezim penguasa berganti… Bisnis bukan saja goyah, bahkan mungkin bisa tutup.

Seperti halnya anak-anak yang semakin dewasa harus semakin mandiri, maka bisnis pun semakin dewasa usia seharusnya semakin mandiri. Tidak manja, minta disubsidi terus-menerus, dan tidak mentang-mentang. Kecuali kita cuma ingin jadi jago kandang. Tapi jago kandang yang melempem, karena begitu ada pesaing yang masuk ke area kekuasaan kita, tinggal tunggu waktunya bisnis kita bubar tanpa sisa. Mau ?

Ngempeng di masa kecil memang masih lucu. Ngempeng ketika berbisnis ? Persis seperti orang dewasa berdasi yang menghisap jempol sambil jalan-jalan di mall, hehehe…

Salam Kaya Dari Rumah.

Alhamdulillah, Hari Ini Saya Rugi

By Lyra Puspa On March 2nd, 2009

Hey, tidak percaya ?

Benar kok, saya baru rugi hari ini. R-U-G-I. Rugi. Loss. Tekor. Lha wong yang namanya usaha, ya pasti ada ruginya tho. Biarpun selama ini rasanya saya nyaris nggak pernah rugi.

Lho kok alhamdulillah ?

Lha ya iya. Apa saya harus marah-marah ? Harta, anak, kedudukan, ‘kan semua bukan punya kita. Ya suka-suka Yang Maha Punya toh kalau mau mengambilnya. Lewat musibah. Atau keteledoran kita. Lewat kedengkian orang lain. Atau malah kesombongan kita.

Hey, rugi itu ueenakk lho !

Benar kok, kita bisa mendapat pelajaran yang luar biasa. Supaya lebih berhati-hati dan tidak besar kepala. Supaya melihat berbagai sisi sebelum melangkah.

Yang buruk di mata kita sekarang bisa jadi yang terindah esok hari. Karena berjuta hikmah bisa dipetik untuk bisa mendewasakan diri. Karena satu kesuksesan boleh jadi buah dari seribu kegagalan. Karena kadang Tuhan harus mencubit, menjitak, atau menempeleng kita supaya kita tidak malas untuk berbenah diri.

Untuk naik kelas.
Untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Hey, siap rugikah Anda ?

(dipindahkan dari blog lama saya : lyrapuspa.blogspot.com)