Mari Bicara Tentang Kaya
By Lyra Puspa On March 20th, 2009Seakan ada dua kubu ketika kita bicara tentang kaya.
Menurut kubu yang satu, untuk mencapai kekayaan diperlukan mimpi yang setinggi-tingginya, tujuan yang jelas, strategi yang terukur, dan kekuatan kemauan yang pantang mundur. Setiap keinginan, mimpi, ataupun tujuan harus tertulis, divisualisasikan sedemikian rupa, dan diinternalisasikan hingga merasuk ke dalam jiwa. Tanpa mimpi, kita tidak akan menjadi apa-apa.
Sementara kubu yang lain mengatakan, bahwa kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati, bukan materi. Yang diraih bukan dari pencapaian mimpi-mimpi, tetapi dari ketiadaan keinginan itu sendiri. Karena kaya yang sesungguhnya adalah ketika segala keinginan tidak memperbudak kita. Entah harta, tahta, wanita, ataupun …. (lho, “ta” yang satu lagi apa ya ? hehe, lupa…)
Yang satu menganggap kemerdekaan manusia ketika dia bisa memiliki segala keinginannya. Yang lain memandang kemerdekaan sesungguhnya adalah ketika kita merdeka dari keinginan yang tak berhingga.
Seakan ada dua kubu, yang satu di kutub selatan yang lain di kutub utara.
Lalu keduanya di lapangan seakan saling menafikan satu sama lain. Loe salah, gue bener. Padahal bumi terdiri dari dua kutub yang berbeda. Dan pada kedua ujungnya saling memberi makna.
Mimpi, harus diakui adalah sebuah kekuatan yang sulit tertandingi. Ketika mimpi benar-benar tervisualisasi dan terinternalisasi, seluruh ruang akal dan gerak kita berpacu menuju sang mimpi. Tak heran begitu banyak kisah sukses dimulai dari sebuah mimpi.
Masalahnya, barangkali, terletak pada rentang waktu : mimpi untuk saat ini, atau hari nanti. Untuk dunia nan fana ini, atau dunia akhirat nan hakiki. Karena ketika mimpi hanya terbatas untuk saat ini, kadang hati memang jauh dari lapang. Obsesi pada target omzet dan laba, kerisauan atas gerak-gerik pesaing, ketidaknyamanan atas keberhasilan orang lain, dan seterusnya… semua hal yang sesungguhnya baik justru bisa berpotensi menjadi kerikil-kerikil dalam hati.
Namun saat mimpi melangit begitu tinggi hingga di hari akhir nanti, rasa sempit di dada seakan ikut melayang dan hati menjadi tenang nan lapang. Target omzet dan laba tetap jauh berdigit-digit, tapi serasa ringan karena dikejar demi mereka yang jauh lebih membutuhkan dari diri sendiri. Agresivitas pesaing menjadi anugrah tak terperi, karena sejatinya kita tidak akan cepat berlari jika tidak ada mitra seperti para pesaing tercinta ini. Kesuksesan orang lain menjadi berita gembira dan pemacu langkah kaki, bukan untuk iri apalagi dengki.
Kedua kubu adalah sahabat kita. Yang satu memacu kita, yang lain memerdekakan kita. Yang satu mendorong maju kita, yang lain melapangkan hati dan meringankan kaki kita.
Setidaknya, itulah menurut saya dengan segala keterbatasannya.
Bagaimana dengan Anda ?
Salam Kaya Dari Rumah.

Belajar Bisnis | Online | Internet Marketing | Jurnal Kehidupan Says: March 20th, 2009 at 8:52 am
Saya percaya dengan MIMPI, dan itu harus diupayakan.Caranya?Tanya sama yang sudah KAYA…BAGAIMANA CARANYA???
Secara PRIBADI menurut saya, KAYA itu punya BANYAK UANG. Banyak efeknya dengan punya banyak uang, paling idealnya, banyak uang BISA banyak beramal, karena BISA banyak dan sering memberi.
Kaya itu kebutuhan pokok sudah terpenuhi, dan masih punya banyak lebih setelah kebutuhan pokok itu sudah terpenuhi.
Saya percaya Kaya memang harus dari 2 kubu itu mbak, kaya harta dan hati, karena, saya sependapat dengan bang Jamil, tujuan manusia adalah sukses mulia.
Kaya pelit biasa kaya dermawan itu luar biasa…
Semoga kita adalah orang kaya yang mulia
Amin
Taufan
http://www.blog.plazamuslim.com
Lyra Puspa Says: March 20th, 2009 at 10:34 pm
@ Taufan :
Setuju pak Taufan. Semoga kita semua menjadi bagian dari mereka yang kaya mulia nan dermawan luar biasa.
Lebih indah lagi kalau kita mencari harta bukan untuk menyimpan atau membeli, tapi memang untuk dibagi…
pututik Says: March 26th, 2009 at 6:08 pm
Bagi saya tepatnya harapan dan cita-cita, namun jika terlalu berharap membuat kita berkhayal dalam impian tanpa usaha.
Saya memperoleh inspirasi seorang sahabat yang kaya warna dalam kehidupannya, bisnisnya banyak, sangat dermawan, mudah bergaul dgn semua orang dan sigap dalam mengambil keputusan. Dia juga kaya dalam ibadah, saya terharu meski kami beda keyakinan.
Lyra Puspa Says: March 27th, 2009 at 4:32 pm
@ Pututik :
Betapa bahagianya memiliki sahabat yang begitu inspiratif. Betapa bahagianya sahabat Anda memiliki Anda sebagai sahabatnya…
Asep Mulyana Says: March 30th, 2009 at 2:18 am
Saya lebih sepakat bahwa kaya sesungguhnya adalah ketika dia tak lagi punya keinginan. Kalau kita masih menginginginkan sesuatu berarti kita masih berproses, belum menjadi. Tapi bebas dari keinginan adalah tahap akhir, maqom manusia paling mulia, yang hanya bisa digapai manakala seseorang sudah mengalami berbagai pengalaman hidup, pun gesekan batin dan material, yang luar biasa. Salut untuk tulisannya, salam dari jauh
Kang Dedy Says: May 30th, 2009 at 11:19 am
Seseorang harus mempunyai mimpi. Tinggal bagaimana langkah kita mewujudkan mimpi tersebut. Apakah akan kita mulai dengan sebuah langkah besar? “jika anda yakin anda bisa” atau kita mulai dengan langkah kecil tapi pasti?
Cinta Says: December 21st, 2009 at 1:14 pm
Setelah melewati berbagai peristiwa kehidupan ahirnya saya sadari tidak perlu mimpi untuk kaya karena dulu dan sekarang saya sudah kaya dan masih berjuang ke masa depan untuk mempertahankan kekayaan itu, sedangkan arti kekayaan itu relatif ada yang cukup makan,tempat tinggal,sehat dan berpendidikan merasa kaya. Ada yang harus punya asset 5M baru merasa kaya. Well Tuhan kasih kita kekayaan ada yg dibikin jalannya mudah,cepat dan berlimpah dan jalannya ada yang di bikin susah,lama baru kaya….manusia cuma bisa bekerja dan berdoa …..