Jadi, Begini Cara Memulainya…

By Lyra Puspa On May 17th, 2009



“Ummi, mas Aif jualan bihun sama tmn2 (atira,naura,asa,nisa) meskipun hjn tetap smngat n ceria. Alhamdulillah hbs bihunnya :-) bsk jualan lg he..3x”



Sebuah sms masuk pada hari itu. Dari Pak Nasrul, guru yang mengajar di TK B Sekolah Alam Indonesia, tempat anak tertua saya bermain sambil belajar. Guru yang di awal Aif masuk play group 2 tahun lalu selalu rajin mengejar-ngejar Aif yang berlarian ke berbagai tempat.

2 Februari 2009. Pagi itu saya memang membawakan 15 bungkus kecil bihun goreng untuk Aif, anak sulung saya, agar dijual di sekolah. Alhamdulillah, ternyata langsung habis di menit-menit pertama. Lumayan, bisa menabung untuk membeli mainan.



aif-jualan
Aif (kanan) siap berjualan puding mangga ditemani Ian (kiri) “partner bisnis”-nya



“Alhamdulillah, mas Aif jualannya hbs semua hy dlm b’berapa menit saja.”



Masuk sms kedua, kali ini dari Bu Ratu yang juga guru di TK B Sekolah Alam Indonesia. Subhanallah ! Betapa para guru di sekolah ini justru mendukung penuh jika para muridnya mengeksplorasi berbagai hal. Termasuk berdagang.

Sekolah Alam Indonesia memang memiliki jadual reguler Market Day, ketika anak-anak dari berbagai kelas membuka stand, dan menjual berbagai hasil karya mereka. Tapi pagi itu bukan waktunya Market Day. Aif berjualan bihun goreng pada hari sekolah biasa. Namun dukungan para guru… Luar biasa.



“Bu, dah dpt kbr dr pak Nasrul kan? … Jualan Aif dah habis. Dan lgsg punya 4 org krywan :D”



Wow, 4 karyawan ? Oh… tentu maksudnya 4 teman yang tadi disebut pak Nasrul. Good start. Even better. Baru mulai berdagang sudah punya reseller. Hahaha.

Sms yang terakhir ini dari Pak Edi, guru yang mengajar langsung Aif saat ini di kelas TK B Tulip. Guru yang, kelak, setiap hari selalu menagih, “Bu, besok Aif jualan lagi yaa…”



Mungkin bagi Anda hal ini terdengar biasa. Ah, hanya berjualan 15 bungkus bihun goreng saja. Namun bagi saya, ini suatu pengalaman berharga yang luar biasa. Karena, anak kami bukan anak biasa.

Ya. Aif dianugerahi Yang Maha Kuasa keterlambatan berbicara. Speech delay, istilah kerennya. Pun hingga saat ini, dia belum jelas berbicara seperti teman-temannya.

Tapi toh, dagangannya selalu habis. Tanpa sisa. Tanpa dia mencuri-curi untuk memakan sendiri barang dagangannya. Dan begitu pula pada penjualan-penjualan berikutnya. Entah bihun goreng, sandwich, atau bahkan nasi kuning. Selalu habis. Sold out.

Padahal dia belum lancar berbicara. Bahkan di usianya yang saat itu sudah 5 tahun. Padahal dia berjualan 2-3 kali setiap minggunya. Sampai sekarang. Namun, tidak pernah Aif pulang dengan membawa barang dagangan sisa. Selalu tandas. Entah bagaimana caranya.



Lalu saya membandingkan dengan diri saya sendiri. Betapa terlambatnya saya, dibandingkan dia, saat memulai berbisnis selepas menyelesaikan S-2. Padahal Aif di usianya yang ke-5, tanpa kemampuan normal berbicara, sudah belajar bagaimana melakukan transaksi, merayu calon konsumen, melihat titik-titik di mana ada peluang, dan mencapai tingkat konsistensi tinggi untuk selalu mencapai kondisi sold out.

Supir saya bercerita, Aif tidak mau pulang kalau dagangannya belum habis tuntas. Dia akan terus mencari konsumen yang mau membeli sisa barang dagangannya. Hmm… betapa konsisten dan persistennya.



Lalu saya membandingkan dengan banyak orang di sekitar kita. Yang berusia dewasa. Yang, katanya, ingin mulai berwirausaha. Yang merasa bingung harus berbisnis apa, padahal dikaruniai berbilang tahun pengalaman dan beragam talenta. Yang lebih bingung lagi ketika berpikir modal dari mana, padahal modal bisa dicari dengan banyak cara. Yang takut menghadapi bangkrut, padahal kejadiannya belum lagi tiba.

Lalu saya berpikir, betapa anak-anak kita begitu luar biasa. Tak pernah takut gagal untuk mencoba. Tak pernah merasa malu ketika mengalami kegagalan. Tak pernah berpikir terlalu njelimet untuk memulai segalanya. Yang penting mencoba. Apa saja.

Lalu, ketika seorang anak berusia 5 tahun sudah mampu membeli mainan dengan uangnya sendiri hanya dengan berjualan bihun goreng 10-15 bungkus setiap kali, masihkah perlu kita bertanya bagaimana memulai sebuah usaha ?

Bukankah peluang berserakan di mana-mana ?

Lalu, ketika seorang anak yang belum lancar bicara saja mampu mencari dan merayu konsumen hingga habis dagangannya, masihkah pantas kita berpikir ketersediaan modal adalah hambatan segalanya ?

Bukankah kita lebih lancar bicara, lebih dewasa, lebih punya banyak pengalaman, lebih luas wawasan, dan berbagai lebih-lebih lainnya ?



Setiap barang yang bisa kita beli, berarti bisa pula kita jual. Setiap keinginan yang tidak terpenuhi, bermakna munculnya sebuah peluang usaha. Setiap talenta yang mengalir dalam diri, adalah modal yang tidak ternilai harganya.

Lalu, masihkah kita bertanya bagaimana caranya memulai usaha ? Untuk mandiri, atau bahkan untuk menjadi kaya ?



Salam Kaya Dari Rumah.




12 Responses to “Jadi, Begini Cara Memulainya…”

  1. Aryo Amiseno Says: May 21st, 2009 at 10:49 am

    Jadi malu nih sama mas Aif. Beda usia lebih dari 30 th tapi belum berani mulai usaha … terlalu takut, terlalu banyak pertimbangan, ragu2 kapan harus mulai - dan nggak pernah mulai-mulai. Mungkin .. belum berani buat kaya.
    Salut saya buat Aif dan juga Ibu - Bapaknya. Salam dari Om Aryo

  2. Tjut Riana Says: May 21st, 2009 at 10:50 am

    Lyra, it’s so inspiring, thx for sharing!

  3. Ardhiana Says: May 21st, 2009 at 10:51 am

    Aslm,
    Membaca cerita ini saya jadi makin yakin asal kita fokus dan konsisten maka bisnis kita akan berhasil.yg pgn mulai n start bisnis silahkan hub saya.insyallah sy bantu artdeeane@gmail.com

  4. Hendy Musalim Says: May 21st, 2009 at 4:10 pm

    thanks for the sharing.. very inspiring :D

  5. Kunti Indra Says: May 21st, 2009 at 4:13 pm

    Thanks info-nya Lyra..trnyata si kecil di SA juga ya.Beruntung,potensi si kecil sdh kelihatan,tinggal diarahkn terus sampai maks.’2 thumbs up fr your kid’.
    Salam SA.

  6. Budi Setiawan Says: May 22nd, 2009 at 12:18 pm

    Subhanallah…thx lyra atas sharing yang sangat luar biasa ini. Semoga bangsa ini tumbuh terus dari generasi yang semakin mandiri, kokoh ekonomi rilnya… aamiin.

  7. Nugroho Irawan F Says: May 23rd, 2009 at 8:13 am

    thx ya te’ lyra… sharingnya sgt memotivasi.

  8. Julianti Sulistijo Kasenda Says: May 23rd, 2009 at 9:53 am

    Bagus sekali mbak. Saya teringat waktu anak ke2 dan 3 masih kelas 3 SD, mereka baru pindah sekolah. Dibandingkan sekolah yang lama, harga jajanan jauh lebih mahal. Kemudian mereka mengutarakan mau jual snacks ke teman2nya, hanya berjalan kira-kira seminggu karena dilarang oleh guru-guru dan kepala sekolah. Malahan saya sebagai ibunya ditegur karena mendorong mereka untuk bisnis “Masih kecil kok diajarkan jadi mata duitan”. Yah, cuma dapat geleng2 kepala saja, peraturannya kaku. Argumentasi bahwa ini kan mendidik untuk menghargai suatu usaha memanfaatkan peluang, tidak mempan!! Itu 12 tahun yang lalu. Lucu juga kalau diingat-ingat.

  9. abdur Says: May 31st, 2009 at 4:07 pm

    makasih mba. Kisah ini inspiring banget..

  10. jamhir Says: July 16th, 2009 at 11:07 pm

    suatu pembelajaran yang sangat baik buat anak-anak kita agar jiwa wirausaha tertanam sejak kecil dan tidak malu-malu memulai usaha dan mencita-citakan menjadi pengusaha yang sukses. bukan sebagai pencari kerja.
    OK BANGET LAH

  11. andriansah Says: August 20th, 2009 at 9:53 am

    Terus terang saya malu, karena aif sudah bisa berdagang sendiri dan selalu habis dagangannya.

    sekali2nya saya ikut bazar th 2006 (wow udah lama sekali :| ) saya juga berprinsip sama, seluruh dagangan harus habis. Akhirnya saya keliling2 ke semua stand bazar untuk menawarkan teh botol yang tinggal beberapa botol itu

    Alhamdulillah habis semua.

  12. Lyra Puspa Says: September 13th, 2009 at 11:01 pm

    @ Andriansah : Gak perlu malu mas, tidak pernah ada kata terlambat kok untuk memulai sesuatu yang baik termasuk menjadi pengusaha. Lagipula, ternyata menghabiskan barang dagangan tidak sulit kan ?

Leave a Reply