Belajar Dari Bu Jumiyem

By Lyra Puspa On July 25th, 2011

Di setiap seminar, workshop, ataupun mentoring bisnis yang diselenggarakan oleh PILLAR, entah berapa ribu kali saya menjumpai wajah-wajah yang bingung dengan cecaran pertanyaan yang nyaris sama : “Bagaimana cara memulai usaha ?” atau “Apa bisnis yang bagus untuk saya ?”

Lho, kenapa harus bingung ? Coba lihat sekitar kita…


bu-jumiyem
Bu Jumiyem di atas motor gerobak sayurnya (foto : KayaDariRumah.com)



Bu Jumiyem namanya. Suatu hari saya bertemu perempuan luar biasa ini sepulng mengantarkan anak-anak ke Sekolah Alam Indonesia di Ciganjur. Ibu dari 2 orang anak ini sehari-hari berprofesi sebagai tukang sayur. Pendidikannya hanya setingkat SD. Sebagaimana layaknya pedagang sayur, setiap hari Bu Jumiyem berangkat ke pasar jam 2 pagi, lalu jam 6 pagi dia mulai berkeliling dengan motor gerobaknya menjajakan barang dagangan sampai sekitar tengah hari. Dalam sehari omzetnya rata-rata mencapai Rp 1 juta, dan menerima keuntungan bersih minimum Rp 100 ribu per hari. Suaminya adalah seorang tukang bakso keliling, mulai bekerja sejak jam 4 pagi hingga sekitar lewat tengah hari, juga berpenghasilan bersih sekitar Rp 100 ribu per hari. Itu minimum lho…

Iseng saya berhitung, berarti penghasilan mereka masing-masing minimum Rp 3 juta per bulan atau total penghasilan bersama sebesar Rp 6 juta per bulan. Bersih. Betul-betul bersih ! Karena mereka tidak perlu lagi mengeluarkan lagi biaya transport dan makan sehari-hari. Wow… berapa banyak kira-kira lulusan SMA dan perguruan tinggi yang belum mampu mencapai tingkat penghasilan sebesar mereka di Indonesia ?

Hmm… tiba-tiba saya menemukan sebuah paradoks yang menarik.

Dari hasil observasi dalam setiap kesempatan pendampingan usaha dari level mikro, kecil, hingga menengah, dengan berbagai latar belakang pendidikan dan budaya, saya menemukan sebuah benang merah fakta. Ternyata, mereka yang berpendidikan SD-SMP relatif lebih mudah memulai dan menentukan pilihan bisnisnya sedari awal dibandingkan mereka yang berpendidikan SMA ke atas, apalagi lulusan perguruan tinggi.

Lho, kenapa ya semakin tinggi tingkat pendidikan justru semakin lama bingung ? Apa karena terlalu banyak ilmu sehingga menjadi sangat penuh pertimbangan ? Atau justru terlalu luas wawasan sehingga terlalu banyak pilihan ? Hehehe…

Padahal sesungguhnya memulai usaha cukup mudah. Apapun yang ada di sekitar kita bisa diolah menjadi peluang usaha yang menguntungkan. Bisa ilmu, keterampilan, jaringan teman, tanaman, bahkan juga sampah…

Kadang untuk bisa sukses kita hanya perlu kembali ke hal-hal yang bersifat sederhana. Sesederhana Bu Jumiyem yang memulai dari ‘sekedar’ berjualan sayur namun mampu berpenghasilan bersih setara lulusan Diploma atau bahkan Sarjana.

Kadang untuk bisa menjadi pengusaha kita cukup menurunkan kadar gengsi kita. Sebagaimana mendiang Sukyatno Nugroho yang memulai dari berjualan es teler dan bakso di tenda pinggir jalan, namun mampu bermetamorfosis menjadi raksasa waralaba nasional Es Teler 77.

Kadang untuk berani memulai kita hanya perlu berhenti berpikir terlalu lama dan langsung bertindak nyata. Persis sebagaimana keberanian H. Bustaman, yang hanya berpendidikan kelas 3 SD, untuk jauh-jauh merantau dari Sumatera Barat ke Jakarta tanpa sanak saudara dan keahlian apa-apa, memulai dari karir pencuci piring di rumah makan, tetapi toh kini sukses melahirkan jaringan restoran padang Sederhana yang menjadi benchmark rumah makan padang di Indonesia.

Maka… kalau bu Jumiyem, pak Sukyatno, dan H. Bustaman yang tidak lulus SD saja bisa, lantas mengapa kita tidak ?

Kuncinya bukan pada apa yang sebaiknya kita lakukan, tetapi KAPAN kita mulai BERTINDAK. Karena setiap pencapaian garis finish senantiasa dimulai dari langkah pertama, dan setiap kesuksesan dimulai dari sebuah tindakan nyata.

Salam Kaya Dari Rumah.


6 Responses to “Belajar Dari Bu Jumiyem”

  1. Yoga Says: July 25th, 2011 at 12:08 pm

    Menurut saya ada dua hal, pertama pendidikan di Indonesia tidak mengarahkan seseorang untuk jadi problem solver, kedua paradigma tertentu di masyarakat menyebabkan rasa gengsi untuk melakukan jenis pekerjaan tertentu, terutama yang menjadikannya blue collar dan tidak duduk di belakang meja.

    Salam kenal, Mbak. 🙂

    Kaya Dari Rumah :
    Salam kenal juga 😀 Setuju, perlu banyak beralih fokus ke life solution (bukan sekedar life skill) dalam paradigma dan praktek pendidikan di Indonesia…

  2. A. PRamana Says: August 19th, 2011 at 11:19 am

    asli, artikel ini menohok baget buat saya yang kebanyakan mikir untuk buat bisnis baru,

    Terima kasih ispirasinya Bu

    Kaya Dari Rumah :
    Sama2 mas, selamat mulai bisnis !

  3. dedi Says: September 16th, 2011 at 2:26 pm

    artikel yang menarik dan sangat inspiratif, boleh ga saya copas bwt catatan di fb??

    salam

    Kaya Dari Rumah :
    Tentu boleh donk, makasih ya di-copas. Semoga bermanfaat…

  4. nunu Says: September 24th, 2011 at 10:08 am

    Alhamdulillah saya adalah potret dari anak yang dilahirkan seperti bu jumiyem mbak, Lulus dari ITB dari keringat ibu berjualan sayur dan ayah pedagang bakso ….

    sukses memang dimulai dari mimpi yang besar dan action segera …

    so cintai 2 hal ini go dream and action !!!

    Kaya Dari Rumah :
    Luar biasa perjuangan Nunu dan ayah-ibu. Semoga lulus ITB adalah awal dari kesuksesan yg lebih besar !

  5. jam tangan Says: November 10th, 2011 at 5:28 am

    artikel yang penuh inspirasi, makasih telah berbagi ilmu kepada kami.

    Kaya Dari Rumah :
    Sama-sama… Terimakasih sudah mampir.

  6. rudie Says: April 16th, 2012 at 8:07 pm

    keren artikel nya.di tunggu artikel yg bs meng-inspirasi

    Kaya Dari Rumah :
    Semoga bisa ada manfaatnya ya !

Leave a Reply