Jangan Latah Jadi Pengusaha

By Lyra Puspa On September 15th, 2011

Dulu… sebelum era 1990-an.

Profesi pengusaha masih dipandang sebelah mata. Saat itu, karir sebagai pegawai negeri atau profesional di perusahaan swasta (apalagi multinasional) begitu dikagumi dan dielu-elukan. Dambaan setiap orang tua dan para calon mertua pula hehehe… 🙂

Sekarang… sejak era 2000-an.

new-life

Mendadak hampir di setiap tempat orang beramai-ramai ingin jadi pengusaha. Beragam alasan yang mendorong fenomena ini. Krismon tahun 1998 yang melumpuhkan banyak perusahaan raksasa dan sebaliknya membuktikan daya tahan UKM, mungkin menjadi trigger kesadaran ini. Atau tingkat pengangguran yang semakin tinggi. Atau para profesional akhirnya sadar di usia 30-40an ternyata masih belum banyak mencapai prestasi karir dan kemakmuran yang didambakan.

Atau blow-up media yang luar biasa terhadap sekian banyak orang terkaya di Indonesia dan dunia yang konon kabarnya sebagian besar adalah pengusaha. Atau boomingnya virus Cash Flow Quadrant ala Kiyosaki yang membuka mata banyak orang. Atau lahirnya para motivator bisnis yang begitu luar biasa menginspirasi massa untuk meraih passive income dan kekayaan tanpa batas. Atau…

Lalu banyak orang berbondong-bondong ingin jadi pengusaha. Seminar kewirausahaan dan komunitas wirausaha tumbuh dan berkembang sedemikian pesatnya. MLM memasuki berbagai lapisan masyarakat. Keluar kerja alias resign untuk jadi pengusaha kemudian menjadi standar prestasi baru. Pengusaha menjadi kasta tinggi masyarakat era baru.

Mengikuti fenomena ini, pameran waralaba pun mendadak laris seperti kacang goreng. Mengapa ? Sebagai pengkonsumsi setia mie instan, mungkin masyarakat kita menganggap waralaba sebagai sebuah cara instan yang menjanjikan untuk menjadi pengusaha sukses tanpa perlu susah payah memulai dari nol.

Betulkah menjadi pengusaha bisa langsung kaya ? Bisa, kalau orang tua Anda adalah seorang pengusaha kaya raya yang mewariskan usahanya pada Anda, hahaha… 😀

Pada kenyataannya, riset PILLAR | Business Accelerator menunjukkan bahwa pada umumnya seorang pengusaha baru mulai memetik hasil usahanya dan bisa dianggap “sukses” di atas 10 tahun, jika tanpa pendampingan bisnis, dengan penuh trial and error, dan proses jatuh bangun. Pertanyaannya : jika Anda ingin menikmati kesuksesan sebagai pengusaha sebagaimana para pengusaha yang saat ini mengorbit di mana-mana, siapkah Anda juga menjalani masa-masa perjuangan bertahun-tahun dengan segala suka-dukanya ?

success-2

Pengusaha bukan satu-satunya jalan untuk kaya, karena tingkat kekayaan tertentu bisa diraih dengan banyak cara lain yang lebih sederhana. Bahkan walaupun orang-orang terkaya di dunia umumnya adalah pengusaha, menjadi pengusaha tidak menjamin seseorang pasti akan kaya raya, apalagi secara instan.

Menjadi pengusaha, sebagaimana halnya dengan menjadi guru, tentara, dokter, pengacara, pelukis, pemusik, penulis, atlet, dan banyak lagi profesi lainnya pada dasarnya adalah sebuah pilihan. Bahwa dalam hidup kita memilih dan menjalankan beberapa profesi secara paralel, misalnya dokter yang pengusaha atau guru yang tentara, itu juga adalah sebuah pilihan yang sama bermaknanya sebagaimana pilihan untuk fokus menjalani satu profesi tertentu.

Maka, sebagaimana pilihan profesi yang lain, menjadi pengusaha membutuhkan komitmen jangka panjang. Komitmen ini terletak bukan pada kekayaan, tetapi pada kebebasan dan kemandirian. Komitmen yang sama juga terletak bukan hanya pada diri, tetapi pada keluarga, karyawan, masyarakat, dan lingkungan. Komitmen untuk tetap menjadi pengusaha dan membuka lapangan kerja, meskipun aral melintang di hadapan. Komitmen untuk proaktif menciptakan dan memimpin perubahan, bukan hanya mengikuti arus dan pasrah pada atasan, keadaan, apalagi ketakutan.

Karenanya… Jangan latah jadi pengusaha.

Kenali betul tujuan, potensi, passion, dan panggilan hidup Anda. Karena menjadi pengusaha bukan tujuan, tetapi salah satu dari sekian banyak jalur yang disediakan-Nya untuk memakmurkan bumi sebagai khalifah-Nya.

Salam Kaya Dari Rumah.

One Response to “Jangan Latah Jadi Pengusaha”

  1. Ahmad Says: May 2nd, 2012 at 2:45 pm

    komitmen juga, karena bisnis bukanlah main2.

    Kaya Dari Rumah :
    Betul. KOMITMEN. Itulah bedanya yang sekedar latah dan pengusaha tulen…

Leave a Reply