Siapa Bilang Beli Franchise Jadi Pengusaha ?

By Lyra Puspa On March 8th, 2009

pameran-franchise

foto : swamediainc.com

Orang Indonesia memang lucu.

Ketika virus entrepreneurship akhir-akhir ini makin menggila, banyak orang seakan-akan kalap mengambil berbagai kesempatan yang ada. Lantas, larislah berbagai pameran bisnis dan waralaba yang sekarang ada di mana-mana.

Lucunya, ketika bertanya di booth-booth pameran, pertanyaan lucu yang selalu mengemuka adalah, “Balik modalnya berapa lama ?” Atau yang lebih lucu lagi, “Kalau bisnisnya sampai bangkrut, bagaimana ?”

Orang Indonesia memang lucu.

Franchise, Licence, Business Opportunity (BO), atau apapun labelnya pada dasarnya adalah suatu bentuk penawaran kerjasama kemitraan untuk mengembangkan suatu merek dan konsep bisnis tanpa perlu sendirian. Bahwa para mitra diuntungkan karena sudah adanya brand, sistem, standar bahan baku, pelatihan, dan berbagai dukungan lainnya, itu adalah sebuah kemudahan untuk memulai bisnis tanpa perlu merangkak dari nol. Resiko kegagalan di awal memulai bisnis bisa lebih diminimalisasi. Ingat, diminimalisasi, bukan dieliminasi. Resiko tetap ada.

Kadang orang Indonesia sering bias antara mindset entrepreneur dan investor. Entrepreneur adalah orang yang membangun dan mengembangkan bisnisnya. Ada keberanian untuk memulai, kekuatan mental untuk jatuh bangun, tekad yang luar biasa untuk tetap maju apapun rintangan yang dihadapi, kejelian menangkap peluang dan menterjemahkan peluang itu menjadi sumber uang, kemampuan untuk mengelola karyawan, serta kesediaan untuk selalu melayani pelanggan.

Investor, di sisi lain, lebih banyak berkonsentrasi pada bagaimana cara memperoleh tingkat pengembalian yang optimal untuk sejumlah kapital yang ditanamkan. Tidak perlu mengembangkan pasar. Tidak perlu memikirkan kepuasan pelanggan. Tidak perlu pusing menangani karyawan. Cukup kejelian menangkap peluang, dan keberanian untuk mengambil peluang dengan tingkat resiko yang diperhitungkan.

Orang Indonesia memang lucu.

Ketika mengambil suatu franchise atau licence, tanpa pandang bulu, kerap kali yang digunakan adalah mindset investor. Oleh karena itu hitung-hitungannya pun lebih banyak bersifat investasi. Kalau saya investasi sekian, balik modal berapa lama. Kalau saya letakkan di lokasi yang seperti ini, bisa dapat laba berapa. Dan seterusnya. Persis seperti mindset ketika menabung di deposito atau membeli ORI.

mangga-besar1Padahal, karakter setiap franchise, licence, atau BO itu berbeda. Ketika Anda mengambil kemitraan GwGuyur, Bakso Malang Cak Eko, Salon Muslimah MOZ5, atau minimarket Omi misalnya, diperlukan mitra yang siap untuk bersama-sama mengembangkan outlet dengan segala resikonya. Anda tidak bisa hanya berinvestasi di muka lalu tidur lelap selamanya, sambil berharap omzet dan laba terus meningkat setiap waktu.

Walaupun tidak perlu ditunggui setiap saat karena sudah dibantu oleh sistem dari pusat, keterlibatan Anda tetap diperlukan. Dalam menangani karyawan, dalam mempromosikan cabang, dalam pengawasan stok, atau aspek pengelolaan operasional lainnya. Mengapa ? Karena memang pada kemitraan jenis ini pengelolaan berada di tangan Anda.

Untuk kemitraan jenis ini, mindset dan mental entrepreneurship Anda mutlak diperlukan. Bagi Anda yang benar-benar ingin menjadi entrepreneur, ini adalah kemudahan yang luar biasa untuk belajar tanpa perlu dari nol. Tidak perlu trial and error. Tapi ingat, ini bisnis Anda, maju mundurnya bisnis tetap berada di tangan Anda.

Berbeda apabila Anda mengambil penawaran franchise atau kemitraan yang pengelolaannya bersifat terpusat seperti Indomaret, Alfamart, Londre, Laundrette, Circle K, dan beberapa lainnya. Anda tinggal menyetorkan sejumlah dana, mencari lokasi yang strategis, lalu merenovasinya sesuai standar mereka. Setelah itu, Anda bisa ongkang-ongkang kaki sambil menunggu berapa bagi hasil yang akan ditransfer ke rekening Anda.

Kelihatannya enak. Namun ini tipe bisnis bagi mereka yang memiliki karakter investor, bukan entrepreneur. Pemilihan barang, karyawan, pengaturan operasional, hingga aspek keuangan ada di bawah kontrol manajemen pusat. Bukan Anda. Bagi mereka yang ingin mengembangkan diri menjadi seorang entrepreneur sejati, bukan di sini tempatnya. Yang Anda peroleh adalah uangnya, bukan exposure bisnisnya. Sebaliknya, bagi Anda yang ingin bertransformasi menjadi investor, inilah tipe bisnis yang cocok bagi Anda. Tapi ingat, tetap bukan tanpa resiko, karena setiap lokasi tetap memiliki karakteristik tersendiri yang tidak bisa ditebak 100% sebelum betul-betul masuk ke sana.

Orang Indonesia memang lucu.

Katanya ingin menjadi entrepreneur, tetapi tidak mau mengambil resiko. Katanya ingin menjadi kaya, tetapi ingin hasil instan. Katanya ingin memiliki bisnis sendiri, tetapi tidak mau repot menangani seluk-beluk bisnis dan karyawan. Katanya ingin maju dan berkembang, tetapi tidak mau terlibat dalam merintisnya setahap demi setahap.

Hahaha, orang Indonesia memang lucu.

Kalau memang tidak mau capek mengelola bisnis sebagai entrepreneur, tetapi juga tidak punya cukup dana untuk menjadi seorang investor, apalagi kemampuan untuk mengambil peluang dan resiko yang diperlukan untuk menjadi keduanya… wah, ya repot. Berarti Anda belum siap meninggalkan zona nyaman.

Mungkin, memang lebih baik Anda tetap menjadi karyawan saja…

Salam Kaya Dari Rumah.

24 Responses to “Siapa Bilang Beli Franchise Jadi Pengusaha ?”

  1. Tom Stanley Says: March 8th, 2009 at 11:45 am

    I was on Yahoo and found your blog. Read a few of your other posts. Good work. I am looking forward to reading more from you in the future.

    Tom Stanley

  2. Lyra Puspa Says: March 8th, 2009 at 3:49 pm

    Hi Tom, thanks for visiting.
    R u Indonesian ? Hope u can understand & enjoy what u read here…
    Great site of urs to :)

  3. Beli rumah Says: March 10th, 2009 at 8:14 am

    Thanks for posting this. Saya suka membaca posting ini dan seperti bagaimana Anda menulis.

  4. Wuryanano Says: March 10th, 2009 at 10:34 pm

    Postingan yang menggelitik sifat egoisme sebagian orang yang terlalu menginginkan hasil instan di dunia bisnis. Memang benar sebagian dari kita ini maunya hasil instan dan berharap sangat tanpa resiko. ;-)

    Sindiran yang bagus dan mengena. Siip deh… :D

    Salam Sukses Penuh Berkah dari Surabaya,

    Wuryanano
    Motivational Blog - Support Your Success
    Entrepreneur Campus - Support Your Future

  5. Lyra Puspa Says: March 13th, 2009 at 7:25 am

    @ Beli Rumah :
    Terimakasih sudah mampir, semoga bermanfaat ya :)

    @ Mas Nano :
    Terimakasih atas komennya. Memang tidak fair ketika kita menginginkan kesuksesan secara instan tanpa mau mengalami berbagai proses dan tahapannya. Lagi pula, terlalu banyak mie instan kan tidak baik untuk kesehatan ya ? Hehehe…
    Mohon kritik dan saran mas Nano yang luar biasa dahsyat bisnisnya. Surabaya & Indonesia beruntung memiliki orang seperti Anda…

  6. suamimalas Says: March 13th, 2009 at 1:45 pm

    saya pikir bentuknya tidak terbagi antara investor dan enterprenuer…tapi ada dua jenis investor…

    ada investor yang enterpreneur dan ada investor yang bukan enterpreneur

  7. sigsig Says: March 14th, 2009 at 5:07 pm

    sepertinya harus banyak pembelajaran mengenai apa itu investor dan enterpreneur. cashflow quadrant cukup bagus tuk suatu pembelajaran. salamkenal dari employee/self employee/ lagi mencoba menjadi pebisnis online. sukses ! saya suka site ini ijin nge blogroll :mrgreen:

  8. Lyra Puspa Says: March 15th, 2009 at 10:42 pm

    @ suamimalas :
    Kalau menurut saya, investor dan entrepreneur saling beririsan. Ada yang investor sekaligus entrepreneur (atau sebaliknya), ada investor yang bukan entrepreneur, dan ada pula entrepreneur yang bukan investor.

    @ sigsig:
    Salam sukses utk bisnis Anda ya ! Silakan dilink… terimakasih lho :)

  9. nico Says: March 17th, 2009 at 2:52 pm

    Nice Post.. jadi menyadarkan saya yang baru mau beli waralaba tipe yang harus ikut terjun ke dalam repotnya bisnis tetapi otak saya masi setengah di zona nyaman.. sedikit ngga mau repot.. tapi tulisan ini menyadarkan kembali saya bahwa saya harus fight untuk meninggalkan zona E untuk pindah ke zona B. thanks..

  10. Asep Mulyana Says: March 17th, 2009 at 9:00 pm

    Posting yang, spt biasa, sangat menggelitik dan menggugah kesadaran. Thanks Lyra, sukses terus untuk bisnisnya. Salam dari jauh

  11. Lyra Puspa Says: March 19th, 2009 at 8:43 am

    @ Nico :
    Kalo mau pindah ke zone B memang jangan tanggung2 belajar & actionnya. Gak pernah ada ruginya kok. Kalo booming dapat untungnya, kalo bangkrut tetap dapet ilmunya :)
    @ Asep :
    Thank’s dah jauh2 mampir dari Norway. Sukses juga utk Anda ya !

  12. imam Says: March 20th, 2009 at 1:27 pm

    Saya suka sekali dengan tulisannya, beberapa teman juga selalu menanyakan bep nya kapan? ketika mulai usaha. Saya selalu bilang kalau nyari bep ya ga usah usaha, nabung di bank itu udah bep + bunga yg kecil hehehehehehe…. Usaha sendiri baik itu franchise maupun brand sendiri memerlukan passion yg kuat supaya berhasil.

    Kita bisa meninggalkan bisnis franchise kita ketika sudah berjalan dgn baik dan menggaji orang utk mengontrolnya. Itu saya lakukan sehingga saya cenderung menjadi penggangguran, jadi saya punya byk waktu utk mengembangkan bisnis yg lainnya.

    Salam sukses

  13. Lyra Puspa Says: March 20th, 2009 at 10:36 pm

    @ Imam :
    Kalau semua franchisee seperti pak Imam, alangkah bahagianya para franchisor sedunia, karena betul-betul memahami bahwa mengambil franchise adalah sebuah awal mula dari petualangan dunia usaha yang tidak ada habisnya.
    Sukses terus untuk Surabi Arab, dan semua bisnis lainnya ya pak :)

  14. CoLiq Says: March 21st, 2009 at 2:19 pm

    Luar biasa Bu,
    Bener sekali analisany..
    Kebanyakan mindsetnya orang yg ngambil franchise adalah sebagai investor, ya paling ga 75% lah. Baru sisanya entrepreneur

  15. Lyra Puspa Says: March 27th, 2009 at 4:35 pm

    @ CoLiq :
    Lebih bagus lagi kalau dua2nya, ya investor ya entrepreneur hehe…

  16. males Says: June 9th, 2009 at 11:00 am

    iya nih…….kalau harus kerja keras tapi gak kaya-kaya (gak bisa diprediksi kapan BEP) ya mending aku jd karyawan aja ah.

    Ngeliat saudara yg entrepeuner hidupnya kayak kehidupan tukang ojeg.Pdhl punya ijazah S1. Diajak jalan2 gak bisa (ga punya duit), ada kawinan saudara di luar kota ga bisa dtg (ga punya ongkos), orang memperbincangkan blackberry dia cuman manyun, saya hunting kamera Nikon terbaru, dia gak bisa beli. KAsian bgt …enakan jd karyawan, ada gaji…..tiap bulan pasti ada.

  17. Mutant Says: July 23rd, 2009 at 7:35 am

    I just found this blog last night trough my friend’s FB.
    It’s indeed a very inspiring blog.

    I’m still an employee now, but already started to build 2 of my own income streams last year. Eventhough they grows slowly, I have learnt a lot.

    Keep on posting..!!

  18. Gunawan Says: September 6th, 2009 at 2:10 pm

    nice artikel dengan berbagai macam komentar, komentar yang lucu menggelikan juga banyak. Ada yang berprinsip kaya dari bisnis/entrepreuner, ada juga yang berprinsip mendingan kerja (meski gajinya pas pasan).

    Jadi pengusaha bila ingin sukses harus fokus. Pasti hasilnya lebih banyak dari pegawai. Jenis jenis pengusaha sih banyak tergantung cara kita menyikapinya.

    Semuanya bagus semuanya ok… sukses semua yach..

    Salam

  19. ronald Says: September 10th, 2009 at 9:57 am

    “Mungkin, memang lebih baik Anda tetap menjadi karyawan saja…”…itu nampar ato mukul…hahahahhaha…btw…memicu adrenalin buat sapa2 yang mw bebas secara financial…ada kata2 lain…mungkin memprovokasi…”jangan mau seumur hidup jadi orang gajian”…hehehehe

  20. Lyra Puspa Says: September 13th, 2009 at 11:11 pm

    @ All : Terimakasih komennya. Semoga tulisan kecil ini bisa bermanfaat. Apapun persepsi kita, bukan pro dan kontra yang penting, tetapi bagaimana kita menggunakan perspektif yang tepat pada setiap situasi yang berbeda. Kapan harus menjadi investor, dan kapan harus menjadi entrepreneur…

  21. boy Says: September 21st, 2009 at 6:03 pm

    gw suka baca artikel ini :) .. menggugah!!

    gw seorang entrepreneur but masih seorang karyawan di sebuah perusahaan berskala nasional, kenapa bisa..? - but nobody knows - karena gw berhasil menciptakan auto pilot system, yang mana jam kerja kantor gw masih bisa 99% focus on, and the businees keep running by itself.

    how is my income from my own business..? well, it’s 4-6 times of my sallary as employee yang belum sampe 2 digit, walaupun dah kerja 7 tahunan.. :( .. kerja mah sekarang buat hobby aja kali ya sambil cari pengalaman and ilmunya itu lhooo :)

    rahasianya, yang gw punya ya itu saja… auto pilot system, kebetulan sempat belajar bisnis waktu univ, gw juga suka programming and manajemen jadi gw ciptain deh sistemnya sendiri.. kan sekarang juga canggih, ada internet dan push-e-mail…

    starting a business nggak gampang, mesti ada pengorbanan banyak di awal, punya nyali juga, kerja keras yang utama: orang bekerja 8 jam sehari, kita harus 15-16 jam sehari.., dan sempet lost juga tapi terus pantang mundur. gw telah merintis hal tersebut sejak 5-6 tahun y.l.

    gw cuman dagang biasa aja, karyawan sekarang sudah 15-16 orang, armada motor 4, armada mobil 3.., start from nothing..

    orang indonesia nggak mau susah, mau tinggal enaknya aja..? or seperti.. maunya barang bagus terus murah..? he he he.. itu mah umum..

    orang kaya, orang sukses, leader, CEO, CFO, direktur, itu kan orang spesial, dan jumlahnya sedikit dari orang pada umumnya.

    mau jadi orang yang sedikit itu apa orang kebanyakan??? ;)

    so, be different donk :)

  22. Lyra Puspa Says: September 28th, 2009 at 11:04 pm

    @ Boy : Setuju pak, aneh ya bahwa jauh lebih banyak orang yang lebih memilih untuk menjadi biasa2 saja dibandingkan menjadi luar biasa. Salut untuk perjuangan bapak ! Tetaplah sukses dan be different than others…. :) :D

  23. Lindratama Says: November 25th, 2009 at 8:36 am

    Saya setuju sekali….tapi memang sulit bagi orang Indonesia untuk merubah itu..karena dari SD. SMP. SMU bahkan S1..selalu sama pertanyaannya..SEKOLAH YANG TINGGI DAN HARUS PINTER BIAR BESOK MUDAH CARI PEKERJAAN atau BESOK KALAU UDAH LULUS KERJA DIMANA..?? ya..to..??
    dan sedikit yang berani mengatakan.. lebih baik mencoba gagal daripada gagal mencoba untuk menjadi seorang entrepreneur..
    itulah pengalaman saya saat menawarkan Business Opportunity (BO)..pertayaannya sama..BEP kapan..resikonya ada nggak..saya tinggal nunggu hasil ya…MEMANG LUCU….

  24. Lyra Puspa Says: December 1st, 2009 at 2:05 pm

    @ Lindratama : Jangan dibilang “sulit”, nanti jadi sulit beneran lho hehe… :) Insya Allah sudah semakin banyak kok masyarakat kita yang sadar untuk tidak menggantungkan diri pada gelar dan karir, tapi harus diimbangi dengan wirausaha. Yuk, kita sebarkan semangat wirausaha ini sama2… :D

Leave a Reply